Wednesday, 29 July 2020

Bukan pengabdi KKN Daring

July 29, 2020 1

Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes memory _ Dr Seuss. Yeah setelah mendapat moment tepat. Quotes yang entah berantah saya dapatkan ini akhirnya digunakan juga. Tentunya selain caption para Instagramable yang keginian. By the way, saya sendiri masih ambigu dalam menulis post ini, entah karena memang rindu pengabdian atau hanya sebatas reunian pikiran (efek melihat post KKN hingga PKM teman yang baru berjalan dua hari yang lalu huhu)
Pelarian
             Adapun teman-teman sosmed saya mengunakan system daring murni, jadi Instagram, Facebook dan WA berubah layaknya akun olshop hoho, maksudnya penuh dengan stori gitu. Oya sebenarnya saya juga semula menganut system daring, but I hate this, “Nyatanya KKN di Desa sendiri lebih ngeri dari KKN Desa Penari.” Walaupun istilah daring, bagi saya tetap memerlukan interaksi kemasyarakat desa sendiri, selayaknya berburu konten, atau berita di desa, berhubung niat kemarin membuat situs desa. Tapi ini merupakan opsi pasrah seandainya saya tidak bisa mendapatkan kelompok KPM dari luar desa saya. (Note: Di Aceh kasus corona kala itu masih dalam kondisi aman, alias 0 jadi masih bisa berinteraksi diluar selama kita mengikuti prosuder yang ada.) dilain pihak, di desa sendiri saya terbilang introvert garis keras jadi kalau tiba-tiba keluar rumah berlalu-lalang di kampung akan membuat saya cukup kikuk, bayangkan saja setelah lima tahun kuliah, masih ada orang kampung yang berpikir saya SMA saking tidak pernah keluar rumah Hmm, soalnya SMA dulu saya boarding school, jadi jarang nonggol di depan tetangga gitu.
            Selain itu, KKN sendirian akan juga membosankan bagi saya yang terbilang pecinta perjalanan, belum lagi untaian mutiara yang terpancarkan dari sang sista, “Kasian banget angkatan korona. Kkn dikampung, gak ada kesan, gak bisa explorer sampai gak ada alasan minta jajan ckckc.” Setelah itu saya bertekat “ saya harus keluar dari zona nyaman, dikala banyak orang memilih mengendap untuk memastikan dirinya dalam  mode aman.. Intinya saya bukan pengabdi KKN Daring. Udah gitu aja.

Sebuah perkenalan
             Hemat saya. Setelah bersikap layaknya penyiar radio yang berbasa-basi dalam berburu tempat. Akhirnya saya bertakdir di sebuah desa yang jarak tempuhnya terbilang dekat dengan alamat saya (beda satu kecamatan saja soalnya.) Alhasil selalu telat karena terlalu dekat haha. Guys, maafkan saya jikalau kalian baca ini yak.
            Oya saya ingin memperkenalkan personil kpm yang berjumlah anggota voli + pelatih. adalah 4 personil wanita dan 3 bani adam. Sebut saja namanya Amar, amir, dan amru dan ciwi-ciwiknya terdiri dari lala, lili, lulu plus saya sendiri inia (gue males pakek lolo, bawaannya ingat boboho dah.)  kami bertujuh dipertemukan dari beragam jurusan yang masih sekabupaten, bahasa mudahnya kita pilih sendiri teman dan tempat kkn selama itu masih satu kabupten gitu. Seru kan?
               Nah yang gak seru nya apa? Yang gak serunya ialah kala sistem pengiriman tugasnya ribet setengah mati karena online. Dokumentasi, upload google drive, kegiatan perhari belum lagi google classroom yang menyebalkan. Hingga tugas terakhir yang kudu upload ulang dengan segala peranakannya hufft I hate this. Tapi syukurlah kini tinggal kenangan. KPM angkatan Corona memang lah epic.
           
Suka Duka nya apa ni?
    Suka telat hehe. Banyak hal yang berkesan yang bikin betah kala KPM daring kemarin, semisal karakter anak2 nya yang cukup aktif. gue sebutnya hiperaktif sih, karena terlalu banyak bertanya “ Kak besok ada pergi gak ? “ kok gak sampai sebulan kkn?, nanti perpisahan nya kita kemana kak ? KKN tahun kemarin kami makan-makan bareng kak sambil jalan2 Lho  ( Duh moon maap ya dedek2 gemes, ente bukan doi ane jadi gak usah kodein aneh2 ya, buat ngukur kadar yang paling uwoow) Tapi gimana pun saya pribadi tetap merasa senang karena mereka cukup antusias walau satu sisi sering kewalahan karena caper nya itu lho. Maklum, secara pribadi saya tidak pernah dikelilingin anak kecil sebanyak ini, beda dengan lima member lain yang notabenya ustad dan ustazah jadi memang sarapan tiap hari dengan suara ribut, hingga tingkah  mereka yang astagfirullah. Pernah leptop gue dipijak tapi syukur masih sehat wal afiat sampai sekarang.
            Kondisi personil KPM juga cukup baik walau kadang anehnya kambuh. Ada yang misterius, baperan, krikrik, hingga mak cie cie (Baca: mak comblang.)  Alhasil lengkap sudah drama KPM, belum lagi kala mood swing yang tiba-tiba muncul. Baik secara nyata maupun di group secara online. Maklum di group Whatsap yang keseringan berperan layaknya toak sahur itu saya dengan Lala. Hmm, kalau diingat sekarang merasa hueek sendiri dengan kelakuan kemarin yang astagfirullah nyebelin.
            Dan untuk dukanya…. Mungkin ini bagian yang paling males untuk ditulis, Jadi sekedar menulis garis umumnya. Well saya pribadi merasa sedih kala malam terakhir perpisahan, first itu adalah hari ultah saya dan saya mendapat surat cinta dari anak2 yang sempat menguji kadar kesabaran saya, Jujur secara saya pribadi pernah berlinang karena mereka, Cuma terlalu malu kalau nangis didepan bocah wkwk. ya secara spesifik saya akan menulis di post lain khsuss untuk mereka.  Kedua sempat kenak marah sama kakek2 disana karena para bocah gak mau diam sudah mau masuk isya. Pokoknya gondok banget, Dan imbas nya gue dua kali kenak. Dan yang terakhir,  saya merasa sedih, ets lebih tepat kesal sih, kalau ada yang berlinang kayaknya si mak cie cie. Perpisahan itu gak beda dari tugas piket sekolah, kelar tugas tancap gas pulang, gak ada kesan gimana gitu, yang satu malah sudah hilang duluan Wallahualam pokoknya membernya have not detect akhlak dah. Tapi salah kami juga sih (saya n mak cie cie) karena cukup telat sampai di hari terakhir, intinya semua member gak ada pemikiran emang. Tapi syukurlah, Beliau yang tertua group (Bg amar ) peka maksud chat saya, lanjut cerita kita bukber buat reunian plus mmperbaiki tantanan yang rusak. Tapi lucunya. ending bukber berakhir sama seperti kala perpisahan haha. Emang nasib gini amat yak. 
  
           
                  
             
           
           
             


Saturday, 25 July 2020

Harga sebuah Profesi

July 25, 2020 3


Alkisah, disuatu ketika di hari peringatan guru, saya mendapatkan sebuah cerita yang cukup tersohor terhadap hebatnya profesi seorang guru. Ya, kala Kekalahan jepang dalam perang dunia II. Banyak sekali para pejuang, hingga petinggi negara yang tewas. Namun heranya ialah pertanyaan yang terlemparkan oleh sang Kaisar Jepang kala itu hanya satu. “Berapa guru yang masih kita miliki? Pertanyaan tersebut memperjelas betapa profesi guru sangat berarti. Karena melalui mereka lah sebuah peradapan bisa dibangun kembali. Guru melahirkan banyak profesi, dan dari sinilah tantanan bangsa akan dibangun lagi. singkat cerita kala itu saya menyimpulkan pekerjaan terbaik adalah guru.
            Namun seiring berjalannya waktu. Saya mendapat kesempatan untuk bisa membaca sebuah buku yang berjudul Allah sang tabib. Dalan buku tersebut saya kembali menyimpulkan jikalau profesi terbaik adalah tabib/ dokter karena peranannya yang tak kenal waktu dalam mengabdi menyebuhkan pasien , mereka selalu dituntut siap siaga dimanapun dan kapanpun.  Kembali saya punya opini baru, hingga suatu ketika kembali  sebuah Hadis muncul kala sedang berdiskusi santai dengan para pedagang yups sebuah hadis dimunculkan.
  “Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah yang paling baik?” Nabi kemudian bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi),” (HR.Ahmad 4:141, hasan ligoirihi).
Akhirnya saya menyimpulkan semua akan baik sesuai hindangan yang ditampilkan. Jikalau kita sedang membahas topik kedokteran maka ia yang menjadi profesi terbaik begitupun kala membahas guru. Semua berlomba-lomba dalam pasarnya.  Tapi yang ingin saya pertegas ialah. Kelak, Akan ada seorang yang berkata jikalau profesi terbaik ialah seorang tukang jamu. Ya seorang seorang tukang jamu, penjual eskrim, kuli hingga pemecah batu. “Karena dari profesi tersebutlah orang tua  saya bisa membesarkan,menyekolahkan, hingga menjadi seseorang yang secara utuh bermanfaat seperti  saat ini.” Kata seorang lelaki sukses suatu hari nanti. 

Wednesday, 8 April 2020

Pendakian berburu sunrise di puncak sikunir.

April 08, 2020 46


Masih teringat jelas, kala jam 2 pagi kami sudah kasak kusuk berkemas untuh sebuah ekspedisi  yang terbilang perdana bagi saya. Sebut saja “Pendakian berburu sunrise di puncak sikunir.” Yeah.

Ini adalah pengalaman pertama saya bergerak ditengah malam dengan suhu dibawah 10 drajat. Kondisi yang sangat berlawanan dengan muasal saya membuat gigi saya bergetar menunjukan perlawanan untuk tidak melakukan perjalanan ckkck, maunya berangkat di dalam mimpi aja yak saking mager karena dinginnya. Tapi akhirnya jam 3 kami siap dengan segala perlengkapan hingga mental dalam pendakian ini. Kami berangkat dengan personel berjumlah 15 orang. 

Dan Untuk yang belum tahu, bukit sikunir ini berada di Dieng, Wonosobo tepatnya di desa tertinggi didaerah ini bahkan katanya se pulau jawa Wow! Sebut saja namanya Desa Sembungan. Oya selain wisata bukit sikunir ,disana juga terdapat wisata lain lho, namanya Telaga kecebong ckckckc. Pertama kali diisengin “ Kalian mau lihat kecebong raksasa gak?” wkwkw imajinasi ku anjlokkkkk

 Puncak Bukit Sikunir sendiri berada di pada posisi sekitar 2.300 sampai 2.400 meter atas permukaan laut. Dan dalam satu referensi disebutkan 2463 mdpl. Wisata ini pertama kali di buka tahun 2010 dan kini menjadi salah wisata favorit dalam berburu sunrise Bagi para pendaki baru, bulan juli hingga september adalah waktu terbaik dalam meilirik golden sunrise secara sempurna, beruntungnya saya kala itu. Bersyukur banget takdir mengantarkan saya ketempat ini, tak lupa juga terima kasih untuk segala perlengkapan selayaknya senter, sarung tangan hingga baju tebal yang menjadi perisai perjalanan kesana  wkwkw Bayangkan saja untuk semenit kalian membuka sarung tangan untuk sekedar mencuci atau buka sejenak buat keperluan tertentu, maka tangan kalian langsung mati rasa, gak kebayang kalau gak beli atau bawa sarung tangan. huhu



Pendakian kami juga cukup terbantu dengan adanya jalan setapak yang didesain untuk mempermudah langkah kami terutama faktor tidak semua menggunakan sepatu pendakian.  Untuk jarak tempuh kesanapun terbilang lumayan dekat untuk para pemula seperti kami yaitu 30-45 menit itupun sudah kecapean karena pertama kali, jadi culture shock pada pendakiannya. Dalam perjalanan kondisi iklim semakin parah alias7 drajat celcius, dan masih dalam lokasi pintu masuk ke kawasan sana. Belum lagi kala pendakian.


Ditengah perjalanan pun kami menemukan gazeyo lengkap dengan perlengkapan salat, namun kondisi kala itu wc masih terkunci sehingga kami harus menunggu sejenak lebih lama untuk bisa kekamar mandi, dalam penantian, kami sempat bertemu dengan para pendaki. Memang terlihat sangat sepi kala kami mendaki, bahkan hampir tidak menjumpai orang tapi menjadi sebuah kejutan ketika sampai dipuncak yang dipenuhi lautan orang haha lebay amat deh. Intinya para pendaki sudah stay duluan disana dengan posisi terbaik untuk menemukan spotnya.

Kami sampai masih dalam keadaan yang cukup gelap, gemerlapnya kota dieng terlukis indah di temani dengan pemandangan gunung prau yang kokoh, udara terlalu dingin sehingga memaksa saya bersembunyi dalam bangunan yang terlihat uzur disitu, saya lupa apa itu tugu atau sejenis bangunan lain kala itu terlalu gelap dan dingin membuat saya tak percaya jikalau suhu sudah menjcapai 5 drajat celcius. olala.!





Tapi perlahan rasa dingin mulai hilang kala sang surya mulai menampakan diri secara malu-malu, warna langit mulai bermetamorfosis dari yang mulanya kemerahan  berubah menjadi keeemasan. Gunung yang tegak dengan hamparan awan yang cukup indah mencuri setiap pasang untuk bisa mendapatkan momen spesial ini. Indah sekali warnanya, pemandangan berubah menjadi sangat mewah dengan kondisi awan yang sangat menawan, langitpun mulai berkibar biru seiras waktu yang mulai berlalu, suatu yang luar biasa pokoknya. Cuma minus untuk yang niat selfie ria pasti akan kesulitan karena setiap pojokan dipenuhi para pemburu sunrise dengan kamera yang siaga hoho. btw potonya cuma ambil pakek hp doang yak, jadi rada terlihat pecah efek di zoom hihi. Oya bayangkan  kala sunrise sedang mucul malah ada bule lagi lamaran disana lho. 







































#pesonaindonesia #dieng #puncaksikunir #travel #backpacker

Thursday, 26 March 2020

Penampakan kota takengon dari atas Bur Telege

March 26, 2020 39
Bagi saya Takengon imbarat Dieng, Kota dingin yang berada diatas awan. Tempat ini terkenal bukan sekedar suhunya tapi juga danau laut tawar yang cukup menawan, eaaakk. 

Januari lalu saya berkesempatan mengunjungi Takengon. Perjalanan yang tak singkat membuat saya menginap dengan harapan bisa mengintari banyak tempat. Dan yang pasti Danau laut tawar yang menjadi ciri khas kota dingin ini. kami sekeluarga sampai ke takengon sore, dan itu membuat saya langsung mencari penginapan sebelum mencoba jalan-jalan sekedar melihat danau yang berada tepat di tengah kota ini. Sialnya karena terlalu iseng mencoba mengitari danau berakhir sampai magrib ke penginapan. Itupun misi kami memutari waduh ini gagal total. Hari pertama kurang beruntung : coba lagi, kalau kata permen kiss yak. 

Dan karena merasa gagal pada h-1, saya mencoba searching tempat wisata favorit di sana dan menemukan sebuah tempat yang cukup menarik dan cocok bagi kalian para pemburu view cantik ala keginian dari alam. Namanya Bur telege.

Bur telege sendiri merupakan sebuah tempat wisata bukit yang istilahnya diambil dari Bahasa gayo. Bur berarti Puncak atau bukit Sedangkan Telege berarti telaga, konon dipuncak terdapat telaga yang katanya airnya tidak pernah kering bahkan kala kemarau melanda, sehingga tempatnya sangat terkenal.

Perjalanan kesana dari lokasi penginapan saya memang terbilang dekat, namun efek pendatang jadi nyasar dan alhasil sampai sana jam 10 huft, belum lagi Perjalanan mendaki cukup bikin dagi dig dug karena tanjakaan yang dibarengi dengan tikungan yang cukup membahana ngeri alias ekstrim cuy, syukur kala itu kami pergi dengan mobil pribadi bukan bus, (sumpah gak kebayang kalau bus nya naik gimana) hebatnya lagi ada yang mengunakan sepeda, suer gak kebayang otot kakinya sebesar apa ckckc BTW pemandangan dalam pendakian menuju bur telege juga cukup cantik hamparan kota terlihat jelas dalam cenat-cenutnya perjalanan.



      Dan Taraa..  akhirnya kami sampai di lokasi. Dengan sungguhan hamparan pohon pinus yang menjulang gagah menyambut kami disebelah selatan. Segala kreasi spot photo indah tertata rapi, disana juga tersedia model baju untuk disewakan seperti kain khas gayo, hingga ntah kenapa saya merasa nyasar baju khas jepang lengkap dengan payungnya untuk photo-photo ckckck. Dan untuk pemandangan yang paling indah sendiri yaitu sajian dari kota takengon sendiri yang dihimpit danau luat tawar. Bagus banget pokoknya, sejujurnya saya jadi bersyukur sampai di lokasi jam 10 karena kondisi dan posisi cahaya matahari sedang bersemi indahnya menemani perjalanan kami,
 
    oya kedatangan kami tak lupa disambut oleh tukang parkir seperti biasa ckckck, dengan tarif mobil 10 k dan motor 5k dan untuk masuk ke lokasi kalian harus merogoh koceh saku 2000 sebelum mulai mendaki ke puncak bukit yang mempunyai jarak kurang lebih 200 dengan ketinggian akhir 1250 mdpl. Kalau orang tua mungkn bisa tunggu di parkiraan karena selain spot nya yang juga cukup menarik tersedia jajanan untuk yang tidak mendaki karena faktor umur

Dan untuk kalian yang gemar camping, kalian bisa menginap dengan menyewa tenda seharga 50 k dan menikmati keindahan dari gemerlapnya malam kota takengon di bukit yang berhasil disulap ini. Tempat ini sendiri Pertama kali di buka tahun 2017, dan cukup meledak pada tahun 2019 hal tersebut  adalah inisiatif dari para pemuda gampong yang mencoba alih fungsikanya, bahkan jauh sebelum berubah tempat wisata tempat ini pernah dijadikan lokasi mabukan yang kini beralih fungsi hiburan dengan pengunjung bisa mencapai 1000/hari. Uwooo. Dan menariknya lagi, di sana telah berdiri sebuah monument setinggi 2 meter lebih yang menjadi bukti dari perjuangan rakyat Takengon melawan penjajah Belanda.


Oya untuk versi video nya bisa dilihat disini yak

Wednesday, 26 February 2020

Kemana empati media kala ada orang mati…

February 26, 2020 27
Judulnya terlihat kasar, karena memang sejujurnya ini berupa ungkapan kemarahan saya kepada para media yang tak pernah sadar. Ya demi adsense hingga gaji kalian berani menjual rasa sedih orang yang mampu mendobrak tingkat respon hingga ranting. Katakanlah demikian Selain saya menyebutnya dengan istilah pengemis empati!



    Kabar duka sepekan yang lalu cukup membuat kesedihan yang mendalam terutama karena sosok yang tak diduga. Dan untuk taraf seorang yang cukup popular maka peluang berita seperti ini langsung menjadi trending topik disegala media. Tagar pun bermunculan, tanpa perlu saya sebutkan. Namun yang menjadi puncak kekesalan saya ialah sikap media yang terlihat sangat jahat kepada para korban yang sedang berduka. Lihatlah beranda anda sampai hari ini masih dipenuhi dengan photo duka seorang anak menangis meraung raung dengan ditemani tatapan kosong dari sang istri yang ditinggal pergi sang suami. Sungguh sangat memprihatinkan terutama dengan segala kenangan yang selalu diputar berulang ulang untuk mengenang sang almarhum. Duh i hate it. kadang juga melihat media seakan bertanya kepada korban yang sedang ditimpa musibah... " Bagaimana perasaan anda? Ya tuhan ingin rasanya kutempeleng.

sebagai contoh ni yang lagi hangat
   Pernah Mikir gak? Kenapa seorang akan menjadi sangat berarti ketika sudah tidak ada lagi,… ya mungkin bahasa paling mudahnya ingin mengenang, tapi pernahkah kita berpikir jikalau dengan video atau sejarah yang berkaitan dengan almarhum diputar berulang akan membuat sang keluarga yang ditinggalkan semakin sulit mengikhlaskannya. Semisal faktor yang kita lihat sang almarhum orang yang sangat baik. penyayang binatang, donatur tetap. well ini bukan berkisah tetap kelebihan. jujur ini suatu yang cukup tak terduga juga bagi saya jikalau beliau penyayang hewan, Tapi yang menjadi tanda tanya saya ialah : "bagaiamana kesulitan keluarga dalam melupakan almarhum disaat yang bersamaan media selalu membuka memori lama secara terus menerus / Up. bagi saya itu berita tapi bagi media itu pemasukan tanpa mikir terhadap keluarga yang ditinggalkan itu adalah sebuah luka, Belum lagi Iklan ponds yag menceritakan pertemuan mereka, kita tidak sedang melupakan sang almarhum tapi lebih tepatnya mencoba mengikhlaskan kepergianya itu. well saya benci para penjual seperti ini. 


Dan yang cukup heran selalu kita akan tahu kondisi seorang itu ketika beliau sudah meninggal. Saya sangat ingat pertama kali mengenang The king of pop Michael Jackson kala ia meninggal, sebulan lebih semua media membahasnya baik cerita, lagunya yang terus diputar berulang-ulang hingga segala skandalnya. Bagaiamana ia hingga keluarga yang ditingalkan mendapatkan rasa tenang? saya tidak melarang media dalam bekerja sesuai tugasnya tapi saya berharap media bisa bertidak sesuai SOP yang seharusnya. Ya semisal raut kesedihan itu. “ Saya turut berduka tapi saya sangt benci ketika orang memanfaatkan sebuah kesempatan dari seorang yang sedang terluka”







Sunday, 23 February 2020

Chicago Typewriter :Dari perjuangan melalui senjata hingga dengan tulisan

February 23, 2020 6
Selain jalan-jalan, menonton adalah Salah satu obat kala liburan panjang tiba. Dan yeah! Kumpulan film pun memenuhi beranda list, dan kali ini pilihan saya jatuh pada sebuah drama yang cukup unik untuk dinikmati, Sebut saja namanya  Chicago Tyrpewriter


       Jadi kisahnya begini : Han See Jo (Yoo Ah In ) Seorang penulis yang sedang berada pada masa keemasan dalam karir nya harus mengalami beberapa kesialan setelah bertemu dengan salah satu pengemar fanatiknya yang dianggap membawa sial. Pertemuan dengan sang pengemar tersebut Eon Seol ( Im Soo Jung ) terbilang tak terduga melalui sebuah mesin ketik yang bernama Chicago Typewriter. dan ternyata hal ini mampu menguak tabir lama yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Kehidupannya kini dihantui oleh ingatan yang tidak bisa dijelaskan terutama ketika sesosok penulis asing Yoon Jin-O (Goo Kyung Pyo) yang secara tiba tiba berada dalam kehidupannya dan memaksa Han See Jo untuk melakukan kontrak kesepakatan untuk tetap bersama dalam merampungkan buku terbarunya. 

        Drama ini menarik alur maju mundur sehingga cukup cocok bagi para penikmat film "tak santai" Dan dengan tema yang cukup unik yaitu penulis dimasa depan dan penembak jitu kala perang dimasa lalu. Film ini menceritakan tentang sebuah mesin ketik dimasa lalu yang dikenal dengan nama Chicago Typewriter, dapun penamaannya disebabkan karena bunyi ketikan mesin ini seperti suara pistol. Hemat saya kisahnya tentang Perjuangan dalam perperangan dimasa lalu yang menggunakan sebuah pistol hingga pena atau mesin ketik tepatnya. 

Dan terakhir... drama yang berjumlah 16 episode mengangkat genre Halu alias fantasi hoho. Dan walaupun bukan film baru alias tayangan tahun 2017, film ini cukup imajinasi eh Btw kisahnya romance dan cukup sedih di endingnya.


#reviewmovie #film #koreadrama #drama #ChicagoWriter






Saturday, 28 December 2019

Cerpen perdana si maniak dongeng sebelum tidur

December 28, 2019 0
Inilah proposalku
Berapa hari yang lalu saya baru menyelesaikan final periklanan, tugasnya mudah yaitu mengarang bebas tentang kelebihan atau prestasi anda. Singkatnya sang dosen ingin melihat kamu mengiklankan dirimu agar layak diterima Dalam persaingan dunia kerja kelak. Lantas sempat berpikir apakah ini kondisi yang sama seperti dalam interview “Kenapa saya haru menerima anda?” Hmm saya harus menjawab dengan rendah hati tapi satu kondisi mengaungkan prestasi duh ini merendah untuk melonjak atau gimana sih?
            Maka meluncurlan segala kesombongan dalam setiap tulisan. Demi sebuah Nilai walau faktanya juga gak ada prestasi wah atau istilah Acehness Cilet-Cilet. Namun tetap bersyukur karena saya pernah menikmati, nikmatnya berkarya melalui lisan hingga tulisan. Dan  salah satu yang paling berharga hingga berkesan adalah ini, walaupun bukan juara 1 malah sekedar masuk 100 besar bagi saya ini yang paling memikat hingga saat ini.


            Tujuh jam yang lalu saya baru menonton video penulisan dari Tere liye. Saya selalu tertarik dengan menulis cerpen atau novel, namun tidak banyak yang saya selesaikan atau jikalau selesai tak pernah coba saya kirim ke sebuah majalan hingga event. Kegemaran menulis sendiri diawali dengan kegemaran membaca buku cerita yang sudah menjadi tradisi lama sebelum tidur, bahkan kala SD kelas tiga, saya tidak akan tidur sebelum bapak bercerita dongeng kancil. Dan jikalau bapak telat pulang maka kakak yang menggantikannya, saking ambiusnya dengan cerita saya akan memijit kakak saya untuk tahu cerita sangkurian, hingga timun mas. Kegemaran itu berlanjut hingga SMP bapak yang sudah tahu kegemaran saya akhirnya selalu memberikan oleh-oleh banyak buku untuk memenuhi kegemaran saya. Saya masih teringat kala bapak menyembunyikan dulu satu kardus besar buku yang baru dibeli nya karena takut saya menghabiskannya dengan cepat, wkwk maklum kalau habis minta di beliin bobo kala pergi kepasar Aceh. Bahkan kondisi gajian juga suka dibawa tempat jualan buku atau komik dan sampai merasa terlalu lelah akhirnya kaka yang turun tangan, yaps hampir tiap bulan kala SMP kakak menyempatin diri untuk sewa komik atau buku bobo, dan karena harga sewa yang murah alias seribu jadi bisa pinjam banyak, kalau bapak beli buku bobo bekas dapat seribu juga cuma kalau bapak beli buku itu pasti perjalanan keluar daerah jadi jarang. Dan perjalanan ini berlanjut sampai SMA sumpah masih ingat banget pernah mimpi sampai ke Kabbah setelah baca cerita sahabat. Hobi membaca membuat terlena untuk memulai menulis fokus, padahal fanatik banget dengan cerpen dan novel bahkan hingga kuliah di Unsyiah masih kebiasaan yang sama. Tapi suatu ketika bapak nyindir “Dari dulu baca cerita orang, ceritamu kapan dibaca orang?” Jleb ngenak banget sumpah, Tapi merasa setuju dengan bapak kala itu, saya terlalu lama berada pada zona yang sama. kapan saya bisa berkarya jika hanya bermodal inspirasi tanpa bisa menginspirasi, akhirnya mulai beraksi yaps kala itu disela magang saya mencoba mengikuti lomba ceroen yang diselenggarakan oleh creator.id dengan teman perjuangan itupuna hari deadline kirimnya dan taraa surprise banget ketika liat tengah malah masuk top 100 terbaik, suatu kebanggan banget karena ini adalah cerpen pertama setelah muntah-muntah baca cerpen dan novel orang dari SD hingga kuliah sekarang. Hihi pastinya ini menjadi salah satu pintu pembukaa untuk karya cerpen hingga novel ke depannya. Mungkin kemarin masih sebatas nulis di blog ini tapi 2010 punya resolusi baru untuk gerak lebih. Aamiin.
             

Tuesday, 10 December 2019

Barat ke Timur mengenang sebuah kisah kasih di titik tengah indonesia

December 10, 2019 2

Cerita ini bukan sekedar campaign namun kisah kasih di perjalanan yang singkat kala itu. Sekiranya kalian sedang tak santai, maka terima sarannku untuk melewati diary milenial ala diriku, inia lutarfus.
                “Disanalah kami berjumpa tanpa membuat janji terlebih dahulu” : Kata orang, penggunaan kata takdir selalu melewati momen dramatis. Namun saya tidak menemukan scenario tersebut dalam cerita kali ini, lebih tepatnya saya percaya dengan istilah takdir, namun tidak dengan syarat bumbu-bumbu  dramatisnya.

                Hallo kenalin “aku Sufra senang banget bisa jumpa kamu lho” Begitulah suara hati mulai membantin. Ah tiba-tiba teringat sinetron yang suara hati bisa diketahui para penonton, ckck. Singkatnya saya tak berani menyampaikannya, entah karena terlalu pendiam, atau takut dia tak paham hingga mempersulit ia dalam menerjemahkannya. Akhirnya saya memendam dan memilih bercerita melalui tulisan saat ini. Hmm sedikit menyesal mengingatnya, mungkin ini menjadi PR untuk saya agar belajar bahasa baru atau lebih tepatnya bahasa isyarat.
                Namanya Sifra, gadis pendiam ini mempunyai nama yang hampir serupa dengan ku, bedanya hanya penggunaan huruf konsonan satu, Dia Sifra dan aku Sufra, sesuatu banget, terutama ketika sadar  saya dari pulau paling barat Indonesia bertemu dengan dia yang berasal dari pulau paling timur Indonesia di titik paling tengah Indonesia. Pertemuannya dengannya terbilang singkat namun, mampu menggali kenangan lama tentang seseorang yang terkubur rapat.”  
                                                                               
                                                                                                                    *****
         Status maba mempertemukan saya dengan seorang anak yang berasal dari papua. Kita sekelas tapi tak sekarib kelas di SMA.  Kalian pasti tahu Mk Umum bagaimana sistemnya. Saya hanya sekedar tahu nama karena pernah melihat dia muncul kala diskusi tentang Freeport, ya seorang lelaki padang menyebut contoh Freeport sebagai PR lama yang tak becus diselesaikan, Dan saat itulah dia muncul dengan narasi kotra pada lelaki tersebut, Singkat cerita dia berdebat panjang dalam artian dia terniat membela Freeport. Saya yang se idealis dengan si lelaki lebih memilih diam, bukan karena persoalan takut berdebat tapi tidak ingin Berlagak menjadi tuan rumah yang lebih tahu tentang kondisi itu, dan dari diskusi tersebut  saya berseluncur lebih tentang mosi ini, dan ternyata banyak juga tokoh penting papua yang memilih diperpanjang alasannya juga beragam sesuai dengan keuntungan masyarakat sekitar hingga kelihaian humasnya. Dari sinilah saya pahami bahwa setiap orang berbicara sesuai kadar pengalamannya jadi saya tidak bisa berkata saya paling benar atau dia yang paling salah, karena pengalaman dia memberikan pemahaman demikian. Begitupun saya,  sebesar apapun peluang yang ditampilkan saya masih  tetap pro dengan si lelaki padang dengan dalih sampai sekarang papua masih tidur diatas emas yang kadang beratapkan langit langsung, belum lagi melihat bangkai tambang yang tidak bisa diperbaiki. Namun disini saya mencoba menghormati perbedaan pendapat dengan landasan diatas tadi, “kita berbicara sesuai pemahaman, jadi yang perlu saya lakukan ialah mentolerir pendapatnya walau sejujurnya saya tak seide denganya. Wah akhirnya saya bisa mempraktekan toleransi tingkatan ke dua Yes..!!berdamai dengan perbedaan pendapat.

           Setelah tiga tahun berpindah ke kampus tetangga, tanpa sadar bulan puasa 2018 saya bertemu dengannya di belakang masjid raya baiturahman, sejujurnya tak niat menyapa karena memang tak akrab, “Hai mar,” namun jiwa sangguinis tiba-tiba saja muncul, sontak dia terlihat bingung, namun dalam bingung dia membalas menyapa untuk menolong saya yang terlihat kobong, duh dia terlihat berpikir keras sejatinya pernah jumpa tapi lupa nama dan dimana, “Kita pernah satu mk umum dulu, waktu aku masih di ekonomi sekarang aku pindah kampus.” Tambahku untuk membantu menjawab rasa penasaranya “Owalah, aku ingat! Ya ampun apa kabar ” katanya terlihat antusias sambil memeluk saya secara spontan. Dan sekarang saya yang terkejut karena berulang kali ketemu dengan teman lama dari fakultas yang sama tak ada yang merespon seantusia begini. Bahkan sebaliknya untuk orang yang  masih terlihat asing ternyata lebih ramah kala berkesempatan jumpa lagi. . Saya masih ingat kala terakhir ucapan sebelum berpisah “semangat puasanya” bentar lagi berbuka. Duh dia lebih peduli ketimbang doi yang tak pernah kabarin Dari sinilah saya mulai tertarik dengan papua lebih dari daerah metropolitan lainnya. Dia terlihat cukup ramah dalam mempraktekan keragaman. Karena umumnya ada sekolompok orang yang kala pergi kesebuah daerah, kota atau negeri akan memilih bergabung dengan komunitas asal / tidak membaur dengan masyarakat sekitar. Saya belajar toleransi dari sekolompok orang seperti dia,  yang mana bisa mempraktekan budaya berbagi kasih  dimanapun berada. Karena saya percaya kelak saya akan menjadi minoritas di negeri orang entah sebagai mahasiswa, bekerja atau sekedar happy-happy. 

             Dear readers " Tak masalah dengan perbedaan, karena dengan berbeda kita bisa belajar menghormati keragaman. kelak dunia akan lebih warna-warni lagi, begitupun dengan perjalannmu nanti.